Hmmm.. Kadang pengen banget nulis, tapi bingung mulainya dari mana.
Gimana kalo kita buat gratitude journal aja?
Suatu ketika, saya diperkenalkan dengan gratitude journal oleh ibu Psikolog yang baik hati dan tidak sombong, mbak Ita D. Azly.
Mungkin teman-teman juga sudah cukup familiar yang dengan gratitude journal.
Tapi kalo belum pernah dengar, saya akan tuliskan sedikit penjelasannya.
"A gratitude journal is, quite simply, a tool to keep track of the good things in life. No matter how difficult and defeating life can sometimes feel, there is always something to feel grateful for".
(positivepsychology.com)
(source : brightdrops.com)
Jadi intinya, kita menuliskan secara rutin hal-hal baik yang bisa kita syukuri. Formatnya bebas. Bisa berbentuk narasi atau pun point-point singkat. Kalo pengen tau lebih banyak boleh silakan googling. Tersedia banyak banget template yang bisa kita pake. Menurut mbak Ita, journaling juga bisa menjadi salah satu alat yang membantu kita untuk releasing stress.
Saya pernah beberapa waktu lalu bikin gratitude journal. Tapi ya ga rutin hahahaha. Pernah tulis di buku ataupun yang paling gampang di socmed. Seperti yang tadi saya bilang, formatnya bebas dan ga harus panjang atau mendalam. Sebaiknya journal ini dibuat di malam hari, sebelum tidur mungkin ya. Jadi kita bisa sekalian merunut, seharian ini apa aja yang terjadi. Atau di pagi hari sebelum memulai aktivitas juga boleh.
Nah, sambil mempersiapkan segala tetek-bengek menuju 2021, saya akan mulai membuat journal besok. Ingetin ya! Mohon doa restunya, semoga ga skip-skip hahaha. 😆😆😆
Di dunia medis, saat ini kata paliatif sudah mulai banyak dikenal. Namun saat mendengar kata "paliatif", pasien atau kelurganya cenderung menganggap hal ini sebagai akhir dari segalanya. Pasien sudah tidak bisa mendapat perawatan apa-apa dan dokter menyerah. Apakah benar demikian?Sebenarnya apa sih paliatif itu? Seberapa pentingnya perawatan paliatif dan kapankah pasien bisa mendapatkan perawatan palliatif?
Di sini saya mau sedikit berbagi informasi yang saya dapatkan dari berbagai sumber, baik itu bahan bacaan maupun pelatihan yang saya ikuti. Sebelumnya, mari kita lihat video ilustrasi berikut:
Apakah sudah mulai terbayang, apa yang dimaksud dengan perawatan paliatif itu?
Secara singkat perawatan paliatif adalah perawatan bagi pasien yang mengidap penyakit yang sulit untuk disembuhkan (contoh: kanker, stroke, jantung, dsb) dengan cara meringankan gejala atau memberikan kenyamanan pasien saat menjalani pengobatan. Tujuan dari perawatan paliatif adalah meningkatkan kualitas hidup pasien hingga meninggal dengan bermartabat. Perawatan ini bersifat holistik, mencakup sisi spiritual, emosional, psikologis, serta sosial. Oleh karena itu perawatan paliatif tidak bisa hanya dilakukan oleh dokter saja atau psikolog saja, tapi melibatkan kerjasama multidisiplin sesuai dengan kebutuhan pasien.
Dulu istilah paliatif dikenal saat pasien mencapai stadium akhir atau sudah tidak bisa mendapat penanganan medis lagi. Tapi sebenarnya perawatan paliatif bisa diberikan sejak diagnosa awal diberikan oleh tim medis. Saat itu mungkin porsi paliatif lebih sedikit dari kuratif, misal 90% kuratif, 10% paliatif. Saat kondisi pasien semakin menurun dan tindakan pengobatan yang bisa dilakukan juga semakin sedikit, porsi paliatif akan semakin besar.
Mengapa perawatan paliatif penting?
Perawatan paliatif sudah diakui secara eksplisit sebagai hak asasi manusia secara internasional terhadap kesehatan, yakni hak asasi manusia untuk standart tertinggi kesehatan fisik dan mental. Komite PBB mengenai Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya juga menyatakan bahwa penting untuk menyediakan perhatian dan asuhan bagi pasien dengan penyakit kronis dan terminal, menghindarkan mereka dari rasa nyeri yang bisa dihindari dan mengupayakan agar dapat meninggal dengan bermartabat.
Perawatan paliatif diberikan secara aktif dan menyeluruh, yakni dengan memperhatikan beberapa aspek berikut:
1. Fokus pada kualitas hidup pasien dan keluarganya
2. Mengevaluasi dan meringankan beban pasien (secara fisik, psikologis, maupun sosial)
3. Meringankan dan mencegah gejalan yang mungkin timbul
Jadi tujuan dari perawatan paliatif di sini bukan berfokus pada penyembuhan penyakit tapi lebih ke upaya meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga.
Sampai sini dulu perkenalan mengenai perawatan paliatif. Di lain waktu saya akan berbagi lagi mengenai informasi lain terkait perawatan paliatif. Semoga sedikit informasi ini bisa bermanfaat.
24.02.2007 - 24.02. 2016
Sembilan tahun. Waktu yang cukup lama tanpa ayah di sisiku.
Masih terbersit kenangan masa kecil bersama ayah.
Aku anak terkecil, biasa disebut 'Si Bontot'. Keluarga kami amatlah besar. Dari rahim mamaku lahir 9 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki-laki (sebagai penengah). Anak pertama meninggal dalam usia balita karena sakit. Dan anak kedua meninggal tahun lalu setelah perjuangan panjang melawan penyakitnya.
Lampung 2009. Sebagian kecil dari keluarga besar
Sejak kecil aku memang agak tomboy, mungkin karena ayah dan mama masih ada keinginan punya anak laki-laki lagi. Tapi yang nongol malah perempuan cantik dan imut :p
Dulu aku suka ga betah kalo disuruh pakai rok atau 'baju perempuan'. Ga bebas aja rasanya. Potongan rambut juga minimalis. Baru sekitar kelas 4 SD, rambutku panjang. Sebelum-sebelumnya selalu ikut potong rambut di tukang cukur langganan ayah yang suka datang ke rumah. Modelnya? yaaa dibikin pendek aja pokoknya.
Jadi aku memang dekat sama ayah. Suka ikut kemana-mana. Bantuin ini-itu. Main di kebon. Nyari jamur-jamur di kayu, terus kita bikin pepes. Enak banget ya, Yah?
Ayah lagi bikin kolam ikan.
Ayahku orangnya ga bisa diam. Tangannya trampil banget. Aku sering dibikinin mainan dari kayu/bambu/barang bekas. Tapi ya mainan cowok kebanyakan. Semacam pistol-pistolan, mobil-mobilan, sampe dibikinin layangan raksasa yang bisa bunyi itu lho. Ayah menyebutnya layangan koang-koangan. Ayah jago banget bikin layangan ini. Bikinnya dari bambu dan kertas minyak. Atasnya dipasang semacam busur yang terbuat dari pita. Saat diterbangkan dan ditiup angin, busur ini akan bunyi. Seru banget deh. Mainnya di atas genteng! Hahahaha. Kurang laki apa coba =))
Seperti ini bentuk layang-layangnya.
Sumber: karyaservice.blogspot.com
Waktu SD ada pelajaran olah raga. Saat itu materinya tentang permainan kasti. Ayahku dengan berbaik hati bikinin tongkat pemukulnya. Dan satu sekolah cuma aku aja yang punya. *bangga*. Akhirnya dihibahkan juga buat aset sekolah. Mau dibawa pulang juga bingung mau main dimana. Bisa-bisa kaca rumah tetangga pada pecah semua kena sambit.
Saat aku SMP, aku masuk ke dalam tim inti basket sekolah. Ayah rajin beliin bola basket. Mulai dari yang harganya 20 ribuan (yang kalo di-drible suka lari-lari ga jelas) sampai bola basket semi-pro yang biasa dipakai untuk pertandingan. Halaman rumah juga disulap jadi tempat latihan basket. Minimalis tapi berguna banget. Mulai dari tiang dan papan pantulnya semua ayah yang bikin, handmade. Cuma beli ring besinya aja. Tiap sore aku bisa main basket di halaman rumah sampe capek. Senenggggg banget!
Setiap 17-an, di rumah suka bikin lomba. Pesertanya keluarga aja. Karena buanyakkkk banget! Ayah pernah bikin egrang dan bakiak buat kita lomba. Seru deh. Terus ayah suka nyanyi-nyanyi bahasa jepang gitu sambil ketawa-ketawa. Kangen, Yah!
Juragan kambing sumringah pas Idul Adha :p
Sekarang aku cuma tinggal berdua mama di rumah. Sepi sih. Kalau masih ada ayah, mungkin jadi agak rame ya di rumah. Aku kangen mijitin ayah. Kangen bikinin ayah mie rebus (yang wajib banget ditambah kecap dan cuka). Kangen sholat diimamin ayah. Kangen semuanya.
Pasti ayah sudah enak di rumah yang baru. Mudah-mudahan kita semua bisa kumpul lagi ya, Ayah. Teriring doa untuk ayah di sana. Love you :*
Remember, for everything you have lost, you have gained something else. Without the dark, you would never see the stars...
Dalam hidup semua datang dan pergi. Mungkin hari ini ada tawaran kerja sama, di lain hari semuanya berantakan. Seperti kata pepatah, "Manusia hanya bisa berencana. Tuhan yang menentukan". Mungkin kata-kata ini klise tapi memang begitu kejadiannya.
Kita berencana sebaik-baiknya. Bersikap kepada orang lain juga baik. Ternyata ada musang berbulu ayam! Yasudahlah... doakan saja yang terbaik untuk mereka. Semoga rejekinya makin mengalir deras.
Mungkin memang ini jalan Tuhan. Sebelum terlalu jauh, Tuhan mengingatkan bahwa ini bukan jalan yang seharusnya. Percaya dan yakin bahwa jalan Tuhan tak pernah salah. Rejeki juga sudah diatur. Masing-masing sudah tertulis porsinya.
Hal yang terpenting adalah kita juga harus tetap berusaha semaksimal mungkin. Positive thinking. Positive feeling. Insya Allah. :)