Ku takut
Tenggelam
Dalam pusaran
Abu-abu ini
Semakin jauh
Semakin terperosok
Semakin lekat
Tanpa terikat
Ku butuh
Berpegangan
Hingga tiba
Di tepian harapan
Entah dengan
Atau tanpa mu
Ku takut
Tenggelam
Dalam pusaran
Abu-abu ini
Semakin jauh
Semakin terperosok
Semakin lekat
Tanpa terikat
Ku butuh
Berpegangan
Hingga tiba
Di tepian harapan
Entah dengan
Atau tanpa mu
"Rindu itu berat", sepotong dialog dari film yang lumayan meledak di pasaran. Hmm.. mungkin ada benarnya juga sih, apalagi kalo rindu yang tidak bisa ditebus dengan sebuah pertemuan. Setelah bertemu, berpisah lagi. Lalu rindu lagi. Begitu seterusnya. Memang obatnya rindu itu cuma satu, yaitu bersatu.
Tapi bagaimana bisa bersatu, sementara ada sekat yang membuat kita tercekat???
Biarlah semesta yang menjawabnya.
![]() |
Agustus, September berlalu
Senin ke Sabtu
Lalu Minggu
Kurasa hanya begitu
Kemudian tetiba ada sesuatu
Datangnya tak tentu
Saat ditunggu malah ragu
Tak ditunggu tapi mengganggu
Sebetulnya tak jauh beda
Tapi mengapa membuat gembira
Ada kesan yang dulu pernah ada
Tapi sekarang hanya sekadar saja
Ada satu yang kubutuh
Kutahu ini tak mungkin utuh
Terima kasih telah berlabuh
Meski rasa ini akan terus tumbuh
Entah sampai kapan
Sementara itu........
![]() |
| Semburat Rindu di Langit Senja |
10 juta orang meninggal akibat kanker setiap tahun. 70% kematian akibat kanker terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia, pada tahun 2020 tercatat ada 396.914 kasus baru kanker dan 234.511 kematian akibat kanker. (Sumber data dari Buku Panduan Pelaksanaan HKS 2022, promkes.kemkes.go.id)
Setiap tanggal 4 Februari diperingati sebagai Hari Kanker Sedunia. Tahun ini tema yang diusung adalah "Close The Care Gap". Tidak bisa dipungkiri, pelayanan kesehatan di Indonesia masih jauh dari kata ideal. Pengalaman saya selama kurang lebih 10 tahun menjadi relawan, kemudian bekerja penuh di yayasan kanker anak, menyadarkan bahwa kesenjangan layanan kesehatan itu memang sangat berpengaruh terhadap proses pengobatan pasien.| With Palliative Social Workers - Pita Kuning (2019) |
"A gratitude journal is, quite simply, a tool to keep track of the good things in life. No matter how difficult and defeating life can sometimes feel, there is always something to feel grateful for".
(positivepsychology.com)
Jadi intinya, kita menuliskan secara rutin hal-hal baik yang bisa kita syukuri. Formatnya bebas. Bisa berbentuk narasi atau pun point-point singkat. Kalo pengen tau lebih banyak boleh silakan googling. Tersedia banyak banget template yang bisa kita pake. Menurut mbak Ita, journaling juga bisa menjadi salah satu alat yang membantu kita untuk releasing stress.
Saya pernah beberapa waktu lalu bikin gratitude journal. Tapi ya ga rutin hahahaha. Pernah tulis di buku ataupun yang paling gampang di socmed. Seperti yang tadi saya bilang, formatnya bebas dan ga harus panjang atau mendalam. Sebaiknya journal ini dibuat di malam hari, sebelum tidur mungkin ya. Jadi kita bisa sekalian merunut, seharian ini apa aja yang terjadi. Atau di pagi hari sebelum memulai aktivitas juga boleh.
Nah, sambil mempersiapkan segala tetek-bengek menuju 2021, saya akan mulai membuat journal besok. Ingetin ya! Mohon doa restunya, semoga ga skip-skip hahaha. 😆😆😆
Ok sampai jumpa besok.
Stay healthy, stay safe, and stay sane!
Love